Cerita ibu

23.33 0 Comments

Kusingkap horden depan, membuang pandangan kesekitar halaman. Hati kecil berharap akan ada bunyi derit pagar rumah berkarat yang menandakan ada orang masuk kerumah.

Sudah tidak terhitung kali keberapa mereka tidak pernah lagi menyambangi rumahku. Kesepian dan kekosongan kian menggerogoti. Haruskah aku menua dengan kondisi seperti ini? bathinku lemas.

Adakah yang salah dengan sikapku dulu? tidak..aku tidak pernah salah. Menjadi seorang ibu yang tegas adalah sebuah keharusan, aku tidak tahu apakah karena cara Ayah mendidik terlalu keras hingga tertanam didiriku, atau memang aku yang tidak berusaha mengenal putra putriku. Tapi itu semua benar sergahku cepat.

**

Aku adalah seorang ibu dengan 2 orang anak. Lengkap rasanya memiliki mereka, karena tidak perlu repot lagi menambah keturunan karena jagoan & putri kecilku sungguh mewakili keinginan kami berdua.

Profesi ku adalah seorang kepala sekolah untuk Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan suami, mengikuti jejak ayah menjadi seorang militer. Kami saling menentukan siapa yang mengurus apa.

Menjadi seorang kepala sekolah di usia muda bukan perkara mudah, banyak hal yang harus aku lakukan. Belum lagi dengan kenakalan-kenakalan siswa-siswi di Sekolah. Tidak sedikit waktu yang aku habiskan untuk mengurus ini itu lebih banyak diluar ketimbang didalam rumah bersama dengan keluarga.

Dirumah, aku menyediakan pembantu hingga 2 orang. Mengurus 2 anak kecil bukan perkara mudah, dan aku tidak ingin direpotkan dengan hal remeh-temeh seperti itu.

Dan kemudian mereka bertumbuh tanpa aku, tanpa kasih sayang dan perhatian.

Ada sesuatu yang berjarak, antara aku dan anak-anakku. Setiap malam menjelang, kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama. Selalu ku habiskan waktu dikamar dengan membaca buku atau tidur. Kadang, disela-sela itu sering terdengar suara gelak tawa mereka. Entah kenapa aku tidak suka dengan suara gelak tawa, hanya membuat pekak telinga.
Pernah sekali waktu putriku mencoba bercengkrama, tapi kemudian ku tinggalkan masuk ke kamar.

Aku hanya ingin mereka lebih menghormatiku sebagai orang tua. Tidak perlu berhaha hihi seperti orang bodoh dan membuat mereka bertindak seenaknya denganku.

Tidak jarang suami menyuruh aku untuk sesekali mengajak si sulung & bungsu berbelanja bersama. Tapi lagi-lagi aku menjawab dengan cepat.. "sudahlah, aku hanya ingin mereka menghormatiku. Kedekatan hanya akan membawa petaka untuk kita, mereka pasti akan bersikap semaunya" ..

Hingga suatu hari, terjadi pertengkaran hebat antara aku dan putriku. Suami dan anak laki-lakiku berusaha keras untuk melerai. Tapi ternyata semua terlambat. Putriku memilih untuk angkat kaki & tinggal dengan ibu mertua. Kemudian ia bertemu jodoh lalu menikah. Pernah beberapa kali ia bertandang kerumah, tapi tak pernah ku gubris. Aku tetap bersikeras tidak pernah salah dalam hatiku.

Anak laki-laki ku pun akhirnya meninggalkan rumah, alasan tidak tahan dengan sifat keras kepalaku menjadi sebuah pembenaran untuk sikapnya padaku.

"Pergilah sesukamu, aku bisa hidup dengan suamiku. Tidak perlu kalian, hey anak-anak tidak tahu diuntung" ucapku dengan lantang.

Siluet punggung itupun perlahan menghilang dibalik pintu, meninggalkan ego yang tidak ingin tersentuh oleh sebuah kekalahan.

**

Setahun berlalu, suamiku jatuh sakit dan beberapa bulan kemudian menghembuskan nafas terakhir. Aku tetap bersikeras dengan diri sendiri untuk tidak pernah menghubungi anak-anakku.

"Aku tidak pernah takut sendiri"..

**

"Kalimat itu, ya..kalimat terakhir yang aku ucapkan dengan nada lantang. Masih teringat jelas dalam ingatan" ..

Terduduk diruang tamu dengan pandangan kosong.

"Aku menyesali semuanya Tuhan"..

Setetes air mata jatuh ke punggung tangan yang semakin berkerut termakan usia. Aku menyeka air mata yang semakin jatuh membasahi pipi.

"Aku rindu putra putriku" ucapku lirih.

"Salahkah jika aku menginginkan mereka kembali? bukan sepi dan sunyi yang terus menemani senjaku hingga nanti Tuhan."

"Kembalikan mereka padaku, aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan titipanMU Tuhan."

Dengan keletihan raga yang semakin renta, aku tertidur terkulai lemas disofa. Entah sudah berapa lama aku tertidur, hingga kemudian membuka pelan-pelan kedua mataku. Bayangan orang..ya betul, bayangan orang..siapakah yang bertandang kerumahku? atau inikah wujud malaikat yang sudah siap menjemputku? jangan..jangan ambil nyawaku, berikan aku kesempatan sekali lagi untuk mencoba menyayangi putra putriku Tuhan.

"Mamah" .. suara itu mulai terdengar jelas. "Ini aku mah, datang bersama abang dan keluarga kita mah".. suara itu..suara itu semakin jelas. Mimpikah aku?

Pelan aku membuka mata, berdiri sekitar 7 orang. Entahlah, mataku sudah terlalu rabun untuk bisa melihat jelas. Ketika sudah benar-benar membuka, tiba-tiba beberapa anak kecil berebutan memelukku..

Neneeek..neneekk..neeneeek bangun neneeek..
Ternyata kedua buah hatiku dan keluarganya.

Oh Tuhan, terimakasih untuk kesempatan kedua yang KAU berikan.

-Fin-

Coba bantu buat cerpen untuk project salah satu Client di kantor. Subjeknya mesti Ibu. Dan yang terpikir barusan seperti inilah adanya. Semoga tidak buruk.

Redshoes

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: