Pelan-pelan

01.18 0 Comments


Membaca postingan perempuan sore disini

http://perempuansore.blogspot.com/2013/01/segala-sesuatunya-bisa-dilakukan-lebih.html#comment-form

Apa yang diceritakan Theo tentang pelan-pelan, membuat saya juga ingin bercerita disini tentang hal serupa.

Setelah menjadi seorang freelancer a.k.a semi pengangguran, jelas bangun saya jadi lebih siang, lalu dilanjutkan dengan bengang-bengong memperhatikan seksama langit-langit dan detail kamar, bertanya apakah masih terbangun dikamar tidur sendiri atau sudah berada di negri antah berantah.

Lebih banyak menghabiskan waktu menemani mama dengan rutinitasnya didapur ketika menyiapkan makan siang, membuat kue, atau sekedar bikin kopi. Mamah itu sama kaya saya, doyan ngopi. Pilihannya saya lebih suka dingin & mama hangat.
Setelah selesai dengan menyiapkan makanan, kemudian dilanjutkan dengan nonton  tivi bareng, ya walaupun untuk hal ini porsi seneng mamah lebih banyak ketimbang saya karena sabotase remote, dan pada akhirnya saya hanya bisa duduk manis & menjadi seorang pendengar yang baik untuk semua komentar lucu yang dia ucapkan.

Membongkar isi lemari buku lalu kemudian memilah-milah buku yang belum saya baca atau baru setengah dibaca. Dan ternyata ada beberapa yang masih terbungkus rapi oleh plastik hihihi.

Menjelang sore biasanya suka saya isi dengan bersepeda, kadang ke rumah kakak perempuan saya hanya untuk sekedar main. Atau ke minimarket terdekat (ini biasanya kalo stok kopi menipis), nah yang paling menyenangkan, tidak jauh dari minimarket tempat saya belanja, ada warung mie ayam yang ternyata rasanya enak, bahagia itu sederhana mungkin cukup tergambarkan jelas ketika saya pulang menenteng 2 plastik berbeda, yang satu berisi kopi kaleng dingin & yang satu mie ayam siap santap hihihi.

Jarak saya bersepeda itu memang ngga pernah jauh, biasanya hanya berkutat disekitaran rumah, rumah kakak dan tempat mie ayam asoy ini. Tapi ternyata masih ada beberapa hal yang bisa saya perhatikan. Seperti warung langganan yang tiba-tiba mendadak tutup. Pernah suatu hari mendadak saya berhenti mengayuh sepeda dan bengong ketika melihat toko itu tutup. Awalnya saya kira hanya tutup biasa, ternyata setelah keesokan harinya balik lagi, kondisinya masih sama. Bangkrutkah? pindahkah? sebagai anak dari orang tua yang berwirausaha, saya bisa merasakan sedih yang mungkin sedang pak asep rasakan. Yah walaupun saya cuma seorang pelanggan yang beli keperluan kecil seperti kopi, roti & teh kotak.

Jaman masih kerja, beberes kamar itu priceless, tapi sekarang udah ngga lagi. Saya bisa lebih bisa meluangkan waktu untuk membereskan dokumen-dokumen yang masih berantakan, foto-foto yang menumpuk hingga lengket, mainan-mainan yang tidak pernah lagi saya pegang. Yap, semua saya lakukan pelan-pelan.

Lupakan ojek dan memulai dengan naik angkot. Menikmati duduk dekat jendela sambil
memperhatikan orang-orang yang naik dan turun, sesekali membiarkan angin menerpa rambut saya hingga semrawut.

Belum pernah saya menikmatinya seperti hari ini. Memberi ruang lebih untuk semua hal yang dulu-dulu tidak pernah saya perhatikan sedetail sekarang.  Dan sepertinya menjadi pelan-pelan tidaklah seburuk yang saya kira :)

Aah mungkin Theo benar, 2013 ini bisa dimulai dengan segalanya lebih pelan-pelan. Pelan-pelan mendengarkan orang lain berbicara, pelan-pelan menurunkan emosi, pelan-pelan dalam mengambil keputusan. Pelan-pelan melupakan hal-hal yang menyakitkan. Segalanya pelan-pelan.

Terima kasih Theo :)

Redshoes

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: