Menikah itu..

13.43 0 Comments

Banyak yang bilang menikahi pasanganmu itu berarti harus bersiap juga untuk menikahi keluarga dan budayanya. Buat saya, ini jelas tantangan terbesar, oh atau mungkin buat Deni juga. Karena kebiasaan-kebiasaan ini sudah menjadi budaya untuk masing-masing keluarga, jadi ngga mungkin untuk dihilangkan toh?

Mari kita mulai cerita ini dengan keluarga saya. Kami adalah  5 bersaudara, perempuan semua. Dari kecil kami terbiasa mandiri, main, belajar dan lain-lain, semua dilakukan sendiri-sendiri. Lalu kemudian bertumbuh dengan budaya cuek bebek, mungkin karena ibu dan bapa saya sibuk berkarir, sehingga menjadikan saya dan anggota keluarga yang lain menjalankan apapun dengan sangat cuek. Seperti salah satu contoh ketika ada teman anaknya bertamu, orang tua saya jarang sekali keluar untuk menyapa temen anaknya dan kemudian nimbrung ngobrol. Buat mereka tamu atau teman anaknya adalah urusan sendiri-sendiri. Atau setiap ada permasalahan, jarang sekali kami berdiskusi satu sama lain, punya masalah ya selesain aja sendiri. Kekurangannya ya gitu, jadi ada jarak sama saudara, dan sense of belonging agak kurang. Tapi itu dulu, sekarang sudah jauh lebih baik.

Berbeda dengan keluarga Deni, sama-sama 5 bersaudara juga dengan karakter keluarga yang jauh berbeda dengan tipikal keluarga saya, mereka terbiasa berkumpul, untuk makan bareng atau sekedar bercengkrama satu sama lain, lalu juga terbiasa mendiskusikan segala hal bersama-sama. Rasa menghormati kepada sesama saudara betul-betul dijaga. Seperti ketika datang, wajib untuk sungkem, atau bahasa lainnya salim kepada yang lebih tua. Dan menjaga silaturahmi betul-betul dibudayakan dengan baik. Mengunjungi kerabat adalah hal wajib dilakukan apabila memungkinkan, beda banget sama keluarga saya yang jaraaaaang banget mau ngedatengin saudara/kerabat karena mikirnya ribet ini dan itu. Udah jelas kan tuh perbedaannya?

Lalu apakah yang terjadi antara kami berdua? ini adalah sedikit contoh dari apa yang kami alami.
Saya ini orangnya ngga suka basa-basi yang berkepanjangan, jadi ketika main kerumah mertua, belum juga sampai, rasa malas sudah menghinggap karena langsung mikir mesti berbasa-basi. Ada waktunya saya cuma pengin diem, ngga pengin ngobrol ini itu. Jadi hal seperti ini agak berat untuk dilakukan. Sama dengan ketika moment lebaran, agenda mengunjungi kerabat itu harus, kadang sampai 2hari sesudah lebaran pun agenda berkunjung masih ada. Nah saya kan orangnya males, jadi ya lagi-lagi ini adalah tantangan terberat (berat mulu ya perasaan hahahaha). Sedangkan Deni, permasalahan yang muncul lebih kepada attitude keluarga saya yang dianggap agak kurang berkenan untuknya. Ya mungkin karena terbiasa cuek bebek, jadi mau ngapain aja ya cuek bebek sampe kadang saya sendiri suka mikir juga ko keluarga gue begini amat ya hahahaha. Well, saya ngga nyalahin sih karena beda orang kan beda cara pandang.

Jadi harus gimana dong? 

Ya udah jalanin aja, kita buat kesepakatan-kesepakatan kecil yang menurut kita berdua paling nyaman. Misal saya lagi ngga mood berbasa-basi, Deni akan pergi kerumah mamahnya sendirian, dan saya menghabiskan waktu dengan '"me time". Atau ketika keluarga saya mau bepergian dan Deni males nyetir/ikut karena jauh, saya membebaskan dia untuk ngga ikut. Hal-hal seperti itulah yang kadang bisa meredam semua ketidaknyamanan kita berdua. Lagipula saya nikah sama Deni ngga cuma akan menghabiskan sehari dua hari toh? seumur hidup kita akan bersama (aamiin). The last but not least, ngga ada hal sempurna didunia ini, jadi belajarlah menerima dan membuat hal-hal yang tidak menyenangkan menjadi (sedikit) menyenangkan mungkin? hihihihi. 

anyway happy friday everyone, mari pulang cepat, temui pasanganmu dan bersenang-senang :)








Redshoes

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: