Kembali ke Ubud Bali

19.05 2 Comments

Halo

Apa kabar semua? lama nggak posting apapun disini.
Saya pengin cerita pengalaman kembali ke Ubud bersama Deni sekitar sebulan lalu. Senang bukan kepalang karena setelah berkali-kali merencanakan, akhirnya terjawab dengan tiket promo. Selesai pertiketan, mulailah saya membuat itinerary dan persiapan lain-lainnya. Untuk perjalanan kali ini, Deni mempercayakan segalanya kepada saya.

Kami berangkat pukul 04.30 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dan sampai dengan selamat di Denpasar pukul 09.00 WITA. Begitu sampai di pintu keluar Airport saya langsung cek Grabcar, karena kami memang sudah merencanakan untuk coba pake grabcar begitu sampai di Bali. Dan akan lumayan ngirit dibanding naik taksi dengan harga yang ditawarkan di area bandara. Entah karena sedang long weekend atau bukan, harga taksi ke Kuta naik drastis sampai 130ribu. Terakhir saya ke Bali, harganya nggak sampe segitu.

Untuk pesan Grabcar sendiri sangat perlu kesabaran, selain susah dapetnya kemarin itu ada kejadian aneh, 2 kali dapet driver tapi begitu dihubungi susah banget, saya sampe minta tolong Deni untuk order via ponselnya, ternyata setali tiga uang, orderan kami diambil, tapi drivernya ditelpon ngga bisa, dicek di map ngga gerak-gerak. Sampai akhirnya kami dapet driver yang mau antar kami ke Kuta. Lalu kemudian berangkatlah menuju hotel kami yang berlokasi di Poppies 2.
Perihal Grabcar ini ternyata saya menemukan beberapa cerita, ada yang bilang akun yang ambil orderan kami adalah akun bodong yang sengaja dibuat untuk mengelabui pemesan dari Bandara, yah nggak tau juga sih cerita ini benar atau nggak. Tapi yang pasti Grabcar di Bali memang dilarang beroperasi di Bandara Ngurah Rai, jadi kalo mau order hati-hati ya.

Perjalanan dari bandara ke Kuta kurang lebih 30 menit. Begitu sampai di Jalan Popies kami sempat tersesat, karena driver yang mengantar tidak tahu persis lokasi hotelnya dimana. Setelah bertanya sana-sini, kami berhasil menemukan The Kubu Hotel. Saya memilih hotel ini karena 3 hal, fasilitas, harga dan lokasi. Fasilitas yang dimiliki The Kubu Hotel salah satunya adalah kolam renang mini, entah kenapa saya selalu terobsesi dengan hotel yang memiliki kolam renang. Kedua dari sisi harga pun cukup ramah untuk kantong kami berdua. Ketiga, untuk lokasi, hotel ini terletak di Jalan Popies 2, awalnya saya mengira tempat ini dekat dengan keramaian, ternyata agak jauh kedalem, jadi kalo jalan kaki lumayan berasa. Selain 3 hal tadi, hotel ini juga memiliki fasilitas sewa kendaraan dan jemputan shuttle ke Ubud. Kami menyewa motor sehari dan juga order shuttle untuk mengantar ke Ubud. Sewa motornya murah ko, sehari 60ribu, begitu juga dengan shuttle ke Ubud, 60ribu perorang.

Ini dia penampakan hotelnya, kamar kami paling atas pojok kiri




Buat foto-foto detail kamar bisa di cek di websitenya The Kubu Hotel.

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami mulai googling untuk destinasi pertama. Saya memang ngga buat ittinerary khusus untuk di Kuta, selain waktunya hanya 1 hari, kami berencana hanya akan berputar-putar di area yang dekat dengan hotel. Tapi ternyata setelah dipikir-pikir akan sayang waktunya kalo tidak dimaksimalkan pergi kemana-mana. Destinasi pertama jatuh kepada Kedai Ceret yang berlokasi di Renon, Denpasar. Jauh ya mau cari makan doang hihihi. Jarak tempuh Kuta-Renon sekitar 45menitan. Lumayan jauh tapi namanya juga liburan, pasti tetep excited.

Ketika di jalan menuju Denpasar, tiba-tiba turun hujan, kami memutuskan untuk menepi karena ngga punya jas hujan. Setelah berhenti, kami pun melanjutkan perjalanan. Area Renon ini banyak sekali deretan rumah makan halal, ada rumah makan khusus sambal seperti di Jakarta juga, jadi bisa lah untuk dateng ke daerah Renon kalo bosen disekitaran Kuta/Legian.

Begitu sampai saya langsung cek menu, oh ternyata konsepnya adalah makanan angkringan Yogya. Ngga ada yang istimewa kecuali dekorasinya, kedai ini menggunakan ceret sebagai hiasan, makanya dinamakan Kedai Ceret. Ini beberapa fotonya..



Selesai makan kami langsung kembali ke hotel, karena lokasinya lumayan jauh, kami manfaatkan untuk melihat-lihat area yang kami lintasi. Satu yang pasti, Denpasar itu panas banget ya, padahal udah sore.

Dan ini beberapa foto di area Poppies 




Satu yang kami lupakan selama di Kuta, pergi ke pantai. Sejatinya Kuta itu andelannya pantai, entah kenapa saya dan Deni hanya menghabiskan waktu dengan naik motor berkeliling Legian.

Legian Street Walk adalah hal paling menarik. Deretan toko aksesoris, baju dan benda-benda lain ternyata ngga cukup untuk diputerin sebentaran. Akhirnya keesokan hari sebelum ke Ubud, saya ajak Deni untuk kembali melihat-lihat yang lokasinya dekat dengan lokasi hotel. 

Satu hari di Kuta, berlanjutlah kami ke Ubud.
Kami ikut shuttle yang disediakan The Kubu Hotel, berangkat pukul 13.00 siang dan sampai di Teba Homestay, Ubud pukul 15.00 sore. Fyi shuttle ini menjemput semua penumpang satu-persatu, jadi kalo lagi ngejar waktu untuk melakukan sesuatu, pilih jam keberangkatan lebih pagi ya.

Sampai di Ubud kami langsung menuju Teba Homestay, ini saya pesan via Traveloka juga. Dan ternyata lokasinya persis dugaan saya, ada di jalan belakang Jangkrik Homestay, yang dulu pernah saya inapi pas travelling sendirian.
Ini beberapa foto dari Teba Homestay..




Maafkan kenarsisan suami saya ya hihihi

Ketika check in baru sadar ktp Deni tertinggal di The Kubu Hotel, rupa-rupanya staff hotel lupa mengembalikan ketika kami check out. Selesai check in Deni menghubungi The Kubu Hotel, ternyata benar ktpnya tertinggal. Saya berpikir satu-satunya solusi adalah mencoba menawarkan pihak hotel untuk titip ke driver shuttle yang datang ke Ubud keesokan harinya, tapi mereka menjawab ragu karena jarang sekali shuttle ke Ubud, kebanyakan ke tempat lain. Akhirnya kami bersepakat untuk kembali ke Denpasar besok pagi sekali untuk ambil ktp, ini artinya itinerary harus di ubah. Baiklah, namanya liburan, perubahan apapun harus dinikmatin kan ya *terus manyun hahahaha* *jauh cyin Ubud-Denpasar*

Selesai dengan urusan ktp, saya berencana untuk mengajak Deni ke Monkey Forest Sanctuary. Tiket masuknya perorang 30ribu. Ternyata Deni seneng saya bawa kesini, karena area dalemnya yang lumayan luas. Dan berfoto dengan teman karib adalah sebuah keharusan hihihihi


Saya ngga banyak foto di Monkey Forest karena takut sama monyet-monyetnya yang menurut saya agak galak. Karena pas kami datang, ada seorang turis yang ponselnya baru aja dirampas oleh sang monyet tapi kemudian berhasil diambil sama petugasnya. Horor kan ya hiii
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00. Kami berlanjut nonton pertunjukan tari-tari, lokasinya ngga jauh dari area Monkey Forest. Pertunjukan malam itu adalah Tari Legong, harga tiketnya satu orang 75ribu. Saya juga ngga foto-foto karena ponsel sudah mati hihihi. Pertunjukannya lumayan lama, mulai dari pukul 19.30 selesai pukul 20.50. Karena sudah malam, kami memutuskan untuk kembali ke homestay.

Hari kedua, pagi-pagi sekali kami bersiap untuk ke Denpasar untuk mengambil ktp Deni yang tertinggal. Sungguh, karena belum terbiasa, saya merasa jarak Ubud-Denpasar itu jauh ya huhuhu. Untuk menuju ke Denpasar, kami mengandalkan navigasi dari GPS ponsel. Lumayan peer nih karena harus standby meganging ponsel dan mengarahkan Deni selama di jalan. Sejam lebih dijalan akhirnya sampai juga di The Kubu, Deni menyampaikan saran kepada pihak hotel, agar lebih berinisiatif untuk hal-hal seperti ini, karena jelas kejadian ini merugikan kami dari segi waktu.
Selesai urusan ktp, saya langsung berinisiatif mengajak Deni ke Pasar Sukowati. Kebetulan saya bawa baju sedikit dan sudah hampir habis, dan ide untuk berbelanja di pasar pasti lebih murah untuk kantong kami, daripada di Pasar Seni Ubud.

Ini dia penampakan Pasar Seni Sukawati...


Karena sebelumnya saya sudah pernah kesini, jadi bisa dikira-kira apa saja yang akan dibeli. Saya beli kaos 2 dan Deni 1, kain, baju barong, serta beberapa buah daster untuk mama dan mama mertua. Sungguh disini murah, tapi tetep harus ditawar ya. Dan harus siap dengan ibu-ibu yang menawarkan aksesoris, sekali kamu beli salah satu dari mereka, akan terus diikuti untuk membeli barang yang lain. Oh iya, saya makan siang disini loh, makan nasi rames dari gerobak sebelah pasar seni ini, masakan si ibu enak tapi lupa difoto. Cukup 10ribu saja sudah nikmat dan kenyang hihihi.



Selesai beli-beli di Pasar Sukawati, kami mampir ke Perama Tour untuk pesan shuttle ke Bandara untuk keesokan hari . Lokasi Perama Tour ini ngga jauh dari penginapan kami. Begitu sampai di Perama ternyata shuttle yang langsung ke bandara itu ngga ada, jadi nanti kami ganti bis arah bandara setelah sampai di Kuta. Shuttle yang saya naiki pertama kali dengan yang kemarin beda banget. Lebih bagus yang sama Deni kemarin, sedangkan yang dulu bentuknya seperti bis Damri tua yang ngga ada AC nya.





Menjelang sore hari kami bersiap untuk berkeliling dengan motor sewaan. Destinasi pertama yaitu Museum Antonio Blanco, maafkan kenarsisan kami ya ihihihi. Ini foto dari depan aja, karena Deni saya ajakin masuk ternyata lebih memilih untuk langsung muter-muter ketempat lain.




Kami mampir ke Pasar Seni Ubud. Banyak barang-barang yang rasanya pengin saya bawa pulang ke Jakarta, tapi lagi-lagi harus menahan nafsu untuk nggak beli. Seperti yang sudah saya sampaikan, harga barang-barang di Pasar Seni Ubud lebih mahal. Jadi pastikan kamu jago nawar ya kalo mau dapet harga murah.








Dan ini beberapa foto hasil kelilingan di sekitaran Jalan Hanoman, Monkey Forest, dan jalanan menuju Museum Antonio Blanco..






Setelah puas berkeliling sekitaran Ubud, Deni membawa saya ke suatu tempat. Ini sungguh saya ngga tau tujuannya kemana. Dan sepanjang jalan ngga berhenti nanya mau kemana, Deni nggak jawab-jawab. Ternyata saya dibawa ke Tegalalang untuk melihat sawah terasiring. Cantik banget, pemandangannya, worth to visit sungguh :)









Foto-foto sebentar di sawah terasiring, saya ajak Deni untuk ke sebuah restoran untuk sekedar duduk sambil minum cantik istilah jaman sekarang hihihi.  Restorannya lucu, ada beanbag warna-warni, Deni sempet ngobrol sama ownernya, ternyata orang Korea yang pernah bekerja di salah satu maskapai, dan akhirnya memilih untuk buka usaha di Bali. Cakep loh masih muda banget, baru saya mau ajakin ngomong sarangheyooo eh tiba-tiba inget udah punya suami hahahahaha.



Pulang dari Tegalalang kami baru ingat untuk beli oleh-oleh makanan, lalu berniatlah untuk mampir ke toko yang kami temui diperjalanan menuju Tegalalang. Dan ternyata tokonya tutup, berusaha cari kesana-kemari ngga dapet juga itu pie susu dan kacang-kacangan. 
Deni menyuruh saya untuk berinisiatif nanya, dan  informasi yang kami dapat, dii Ubud itu ngga ada yang jual. Kalo mau bisa ke arah Gianyar, ada toko besar jual Pie Susu Cening Ayu, lokasinya di jalan raya celuk. Jarak tempuhnya sekitar setengah jam dari Ubud. Kebayang dong setengah jam ngga pake macet itu jauh loh. Dan jam menunjukan pukul 19.30 malam, tapi karena memang perlu membeli untuk buah tangan kantor, kami nekat untuk kesana. 

Sepanjang jalan agak ketar-ketir sih karena jalur yang kami lalui gelap dan sepi, ya walaupun sesekali papasan dengan motor lain. Nah posisi tokonya ada di sebelah kanan, tulisannya gede Pie Susu Cening Ayu.  Alhamdulillah semua kebutuhan oleh-oleh langsung terpenuhi, tokonya lengkap, bukan cuma Pie Susu aja tapi ada macem-macem kaya Toko Krisna yang ada di Denpasar. Pas pulang bonus ketemu somay yang enak, Alhamdulillah. 

Dan tiba saatnya pulang. Berhubung shuttlenya masih jam 10.30, saya sama Deni selesai sarapan langsung jalan-jalan pagi. Kalo lagi liburan gini, gamau pulang ya *semua orang juga gitu hahahaha* ini video jalan-jalan terakhir kita pake motor sewaan yang lebih cakep dari di Kuta kemarin hihihi. Semoga berkenan ya 8) 






Sampe ketemu postingan berikutnya *nyengir* 

Redshoes

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

2 komentar:

  1. Wooww.. Ubud I'm in Loooove huehehhee... posting lagi dong sis.. sis... sis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf saya sibuk hahahahahaha..sis sis sosiiisss

      Hapus